SIFAT SHALAT NABI SEBAGAI RASA CINTA KITA PADANYA DAN RASA SYUKUR KITA KEPADA ALLAH SWT




Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastagfiruh, wa na’udzubillahi min syururi anfusina, wa min sayyiati a’malina, mayyahdilillahu fala mudhillalah, wa man yudhlil fala hadiyalah. Asyhadu allaa ilaaha ilallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rusuluh, la nabiyya ba’da, amma ba’du


  • Shalat sebagai tiang agama dan amalan ibadah utama

Saudara-saudaraku muslimin wal muslimah, sebagai kaum muslim tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan apa yang dimaksud dengan shalat. Ya, shalat adalah ibadah yang paling utama dari ibadah-ibadah lainnya yang menjadikan pembeda antara ISLAM dan agama lainnya. Hal ini terdapat pada hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh imam Ath-Tharbani

"Amalan seorang hamba yang paling pertama dihisab di hari Kiamat adalah sholat, jika sholatnya baik maka baik pula seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalannya." (HR. Ath-Thabarani) 
“Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir” HR Muslim no. 978

Dan firman Allah SWT

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. HUUD:114)

Dari dalil-dalil diatas dapatlah kita simpulkan bahwa betapa penting dan betapa utamanya shalat sebagai landasan/pondasi kita sebagai orang Islam. Namun, kita sering kali masih rancu bagaimanakah cara menunaikan shalat yang berdasarkan syariat? Apakah shalat kita yang selama ini kita kerjakan sudah sesuai dengan apa yang ada dalam syariat agama Islam? Bukankah menambah-nambahi atau mengurangi ibadah yang telah diatur berdasarkan sunnah Nabi saw dan Al-Qur’an adalah bid’ah, dan segala bid’ah adalah dholala (sesat)?

Saudaraku, banyak sekali diantara kita yang melakukan ibadah, entah itu shalat ataupun yang lain yang hanya ikut dengan apa yang telah berjalan (budaya) yang ada di lingkungan tanpa kita mengetahui dan mempelajari apa yang menjadi dasar dari ibadah itu. Bagaimana jika itu sesungguhnya tidak sesuai dengan syariat Islam? Memang, penulis pun belum terlalu memahami apa yang ada pada syariat Islam secara lengkap dan menyeluruh, namun disini penulis mencoba untuk men-share apa yang penulis tahu berdasarkan syariat Islam yang ada pada hadist-hadits sunnah Rasulullah saw dan apa yang di firmankan oleh Allah azza wa jalla.

Bagaimanakah seharusnya kita shalat, dan darimanakah dasar-dasar dari gerakan-gerakan dan bacaan saat shalat?

Para ulama fiqh telah berbicara dan menulis tentang sifat (tata cara) shalat Nabi Shalallahu'alaihi wasallam. Hal ini dilakukan karena Syarat diterimanya ibadah ada dua :

1. Ikhlas karena Allah Ta'ala (konsekuensi dari Kalimat syahadat La ilahailallah)
2. Mengikuti contoh Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam (konsekuensi dari Muhammad Rasulullah)

Dan sabda Rasulullah saw

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat” (HR.Bukhari)

Dari hadits tersebut sangatlah jelas bahwa tata cara dari shalat harus sesuai dengan apa-apa yang diajarkan beliau yang telah diriwayatkan oleh perawi-perawi hadits yang shahih. Memang disekitar kita banyak ulama-ulama ataupun sesepuh-sesepuh masjid yang menggunakan ajaran-ajaran mazhab baik itu mazhab imam Maliki, imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah (mazhab hanafi) dan Imam Ahmad bin Hanbal (Mazhab Hambali), dan mereka pun tentunya berdasarkan dari hadits-hadits yang ada. Namun, tentunya alangkah lebih baiknya kita tidak menelan mentah-mentah dari mazhab, bukan berarti kita tidak percaya pada imam-imam tersebut, imam-imam tersebut tentunya telah menjadi ahli ibadah yang insya Allah senantiasa di rahmati Allah SWT. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya kita mengkaji langsung kepada hadits-hadits nabi saw sehingga kita mengetahui per poin dari apa yang kita kerjakan, karena imam-imam tersebut pun menyatakan bahwasanya apabila ada kesalahan yang tidak berdasarkan pada sunnah-sunnah rasulullah saw, maka perbaikilah sesuai dengan apa yang terdapat pada hadits-hadits yang shahih.

Dilingkungan masyarakat kita kini, sering sekali terdapat perselisihan-perselisihan yang terjadi hanya karena perbedaan persepsi ataupun pendapat mengenai hal yang furu’ (cabang) dan bukan mengenai tauhid uluhiyyah maupun rububiyyah. Tidak hanya berselisih saling membenarkan diri, bahkan terkadang kelompok-kelompok jamaah yang berselisih tersebut saling mengharamkan atau bahkan lebih ekstrim lagi sampai meng-kafirkan saudaranya sesame muslim itu sendiri. Hal ini tentunya teramat sangat disayangkan, apalagi jika sampai memecah belah ukhuwah, apakah mereka yang merasa benar sudah pantas untuk mencap mereka masuk surga dengan amalan-amalan dan memvonis selain dari mereka adalah sesat dan haram masuk surga tanpa adanya musyawarah dan solusi yang baik terlebih dahulu? Menyedihkan saudaraku. Bukankah hanya Allah SWT yang berhak memberikan kita pahala, rezeki, nasib, bukan diri kita sendiri yang dapat menilai itu, walaupun memang Allah telah memberi tahukan apa saja hal-hal yang berpahala dan berdosa, namun tetap saja hanya Allah lah yang berhak memutuskan hal tersebut, kita hanya berhak berikhtiar dan berdo’a serta tawakal sesuai tuntunan syari'at.

Lalu, apa solusinya agar perbedaan-perbedaan tersebut dapat menjadi toleransi antar sesama?..

Sebenarnya hal seperti tersebut diatas tidak akan manjadi rumit apabila kita dapat saling mengerti, membuang rasa egoisme merasa benar sendiri, dan ikhlas mengembalikan semuanya pada dalil-dalil dari firman Allah SWT dan sunnah-sunnah Nabi saw yang telah diriwayatkan dalam hadits-hadits dengan sanad yang shahih dan matan yang jelas dan telah ditafsirkan oleh ahlinya. Jika memang terdapat perbedaan-perbedaan antara yang shahih tersebut, maka kita harus memakluminya karena memang semuanya berdasarkan syariat. Adapun apabila terdapat hal-hal yang memang belum jelas antara beberapa pihak jamaah yang berbeda tersebut, hendaklah dimusyawarahkan antara alim ulama dari jamaah-jamaah tersebut, dan apapun keputusannya haruslah disetujui dan dilaksanakan bersama, karena memang Rasulullah saw pun bersabda bahwasanya kita juga harus melaksanakan dan mendukung pemimpin-pemimpin kita selama mereka tidak maksiat, dzalim dan mengganggu tauhid.

Kembali lagi ke bahasan utama, bahwasanya kita harus menjalankan shalat dengan tata cara yang terdapat pada sunnah Nabi saw, dari mulai niat, takbir, ruku, I’tidal, sujud, tasyahud, salam, serta do’a-do’a dan bacaan yang digunakan rasulullah saw serta tata cara shalat berjamaah yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

Allahu a’lam bisshawab

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii Ilmi Nahwi

Catatan Pribadi Kuliah Ramadhan

Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii 'Ilmin Nahwi (3)