Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii 'Ilmin Nahwi (2)

بســــــــــــــــم الله الرحمن الرحيـــــــــــــــــم

Tujuan mempelajari bahasa arab adalah supaya kita bisa memahami kitab-kitab para ulama yang berbahasa arab. Syaikh Muhammad Shalih bin Utsaimin ketika mensyarah kitab al-jurumiyyah berkata 
"sesungguhnya ilmu nahwu adalah ilmu yang mulia yang berupa ilmu alat yang mana akan mengantarkan kepada dua perkara yakni yang pertama memahami kitabullah dan sunnah rasulullah saw, karena memahami keduanya tergantung dari pemahaman seseorang terhadap ilmu nahwu, dan yang kedua yaitu meluruskan lisan sebagaimana lisannya orang arab yang mana al-qur'an turun dengan bahasa arab. Akan tetapi nahwu ketika belajar di awal akan sulit, namun jika sesorang belajar dengan sungguh-sungguh akan mudah, seperti rumah yang terbuat dari bambu, akan tetapi pintunya terbuat dari besi. Maksudnya adalah seseorang ketika memasuki ilmu nahwu akan sulit, akan tetapi ketika telah dapat masuk, segala sesuatunya akan menjadi mudah bagi kita. Oleh karena itu hendaknya seseorang bersemangat saat mempelajari awal ilmu nahwu"
Salah satu kitab yang mudah dan tidak terlalu tebal adalah kitab muyassar fii 'ilmin nahwi karya ustadz Aceng Zakariya.
Ciri isim tambahan, adanya al-idhofah yaitu menyandarkan satu kata dengan kata yang lain, yang asalnya dua kata digabung menjadi satu kata. Misal rosuulun dan Allah maka menjadi rasulullahi, kata yang pertama (rosuulun) disebut mudhof, dan yang kedua (Allahu) diseut mudhof ilaih dan kedua-duanya merupakan isim, walaupun mudhof ilaih misalkan bukan isim, tetap disebut menjadi isim. Adapun syarat mudhof ilaih adalah dikasroh (majrur/Khoft). Syarat mudhof ada tiga :

1.     Mudhof tidak boleh ditanwin. Misal : رَسُوْلٌ menjadi رَسُولْ
2.     Tidak dimasuki alif lam. Misal : رَسُوْلُ اللهِ tidak boleh menjadi الرَّسُوْلُ اللهِ
3.     Dijelaskan lanjut

Apabila suatu kata dimasuki salah satu ciri isim maka sudah terhukumi menjadi sebuah isim, tidak harus semua ciri masuk.
Huruf jar adalah :

1.     مِنْ (dari)
Artinya dari. Ulama mengatakan fungsi mim untuk memulai baik itu tempat maupun waktu.
Contoh : مِنَ النَّاسِ (dari manusia)
Huruf min mengakibatkan kata setelahnya menjadi majrur (dikasoh/khoft) dan ditambahi alif lam, karena asalnya adalah huruf min ditambah dengan an-naasi.

2.     إِلٰى (ke)
Artinya ke.
Contoh : إِلٰى السُوكِ (ke pasar)
Sama dengan di atas, huruf ilaa mengakibatkan kata setelahnya menjadi majrur dan ditambahi alif lam.

3.     عَنْ (dari)
Artinya dari. Hukum isimnya sama dengan مِنْ.

4.      عَلٰى(di atas)
Artinya di atas.
Contohnya : عَلٰى المَكْتَبِ (di atas meja)
Maktabi disini dihukumi sebagai isim.

5.     فِي (di dalam)
Contoh : فِي البَيْتِ (di dalam rumah)
Baiti disini menjadi isim karena kemasukan huruf jar fii.

6.     رُبَّ
Menurut ulama ada dua arti yakni banyak atau sedikit. Biasanya artinya banyak.
Contoh : رُبَّ رَجُلٍ كَرِيْمٍ (sedikit laki-laki mulia)
رُبَّ membuat kata setelahnya menjadi majrur. Salah satu syarat rubba hanya masuk ke isim nakiroh (tidak ada alif lam).

7.     البَاءُ
Kaidah penulisan untuk satu huruf harus ditulis dengan البَاءُ tidak dengan بِ, namun dibaca dalam kata atau kalimat menjadi بِ. Artinya dengan. Contoh :  بِالقَلَمِ

8.     الكَافُ
Artinya seperti (menyepertikan sesuatu). Contoh : كَالأَسَد

9.     اللَامُ
Kepemilikan atau untuk. Contoh :  لِلَّهِ, لِرَسُوْلِ اللهِ
Jenis Kalimat الفِعْلُ
Fiil adalah kata yang menunjukkan suatu makna dan terikat dengan waktu. Contoh :    كَتَبَ telah menulis,  قَرَأَ telah membaca,  يَكْتُبُ sedang menulis,  يَقْرَأُ sedang membaca,  أُكْتُبْ tulislah (terikat waktu yang akan datang),  إِقْرأْ bacalah.
Ciri-ciri fiil adalah :

1.     قَدْ
Memiliki banyak arti, salah satunya sungguh. Untuk fiil madhi dan fiil mudhori’. Contoh : Segera akan didirikan shalat.
Qad apabila masuk ke fiil madhi ada beberapa arti :
-         At-tahqiiq => Meyakinkan/Menguatkan (Sungguh)
-         At-taqriib (dekat/segera)
Apabila masuk ke fiil mudhori’ arti :
-         At-taqliil (sedikit)
-         At-taktsiir (banyak)
Contoh : Qod yashduqu al-kadzuubu (sedikit orang pendusta berbicara jujur), Qod yashduqu ash-shoodiqu (banyak orang jujur berbicara jujur/benar).
2.     السِّيْنُ
Harfu tanfis, menunjukkan yang akan  datang atau segera, khusus untuk fiil mudhori’. Contoh : sayadzhabu (dia akan pergi), sayarji’u (dia akan kembali)
3.     سَوفَ
Sama seperti siin tapi lebih panjang waktunya. Contoh : saufa ta’lamuun (kelak kamu akan mengetahui)
4.      تَاءُ التَكْنِسْ السَاكِنَةُ (ta yang disukun)
Menunjukkan untuk seorang perempuan. Khusus untuk fiil madhi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii Ilmi Nahwi

Catatan Pribadi Kuliah Ramadhan

Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii 'Ilmin Nahwi (3)