Qunut Witir dan Qunut Nazilah di Bulan Ramadhan
بســــــــــــــــــــــم الله الرحمن الرحيــــــــــــــــــــــــم
الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله, أشهد أن لا إله الا الله ولا ولده وأشهد أن محمد عبده ورسوله اصادق الوفى
قال الله تعالى في كتابه الكريم وهو اصدق القاعلين :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وقال أيضا : ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. أما بعد...
Menyembah Allah adalah perkara tauhid yang wajib bagi seluruh kaum muslimin. Hal ini merupakan salah satu dari tiga landasan utama tauhid yaitu tauhid uluhiyah (ibadah). Konsekuensi dari tauhid ini adalah tidak adanya sesembahan selain Allah ﷻ dan hanya kepada-Nya lah kita memohon (berdoa), sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat Al-Faatihah ayat 5 :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon”
Dan sungguh kita harus mengaplikasikan permohonan kepada Allah ﷻ dengan penuh keyakinan bahwa hanya Allah ﷻ sebaik – baik pembela dan Dia-lah sebaik – baik pemberi pertolongan, serta yakin lah bahwa Allah ﷻ sebaik – baik pengabul do’a. Allah ﷻ berfiman :
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “hasbunallah wa ni’mal wakiil [cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung]“. ” (QS. Ali ‘Imron: 173)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60) “(Dan) apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah : 186)
Bahkan Allah ﷻ murka terhadap hamba yang tidak mau memohon kepada – Nya, karena sungguh Allah ﷻ senang apabila hamba – Nya meminta sesuatu kepada – Nya.
إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلْهُ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya” (HR. Tirmidzi, 3373 dan Ibnu Majah, 3727 dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih at Tirmidzi, 2686 – Hadits Hasan menurut syaikh Al-Albani)
Maka pada Ramadhan 1437 H ini kami mengajak kaum muslimin untuk berdoa kepada Allah ﷻ agar diberikan ampunan oleh – Nya, diterima setiap amal ibadah kita dan memohon kepada – Nya agar kaum muslimin kembali dimuliakan dan diselamatkan dari makar kaum kuffar dan musyrikin, karena sungguh makar mereka semua telah menyayat hati dan tubuh kaum muslimin. Kami mengajak kepada kaum muslimin terutama kepada para asatidz yang menjadi imam di sholat – sholat malam terutama shalat witir untuk melaksanakan do’a qunut witir sekaligus qunut nazilah.
Syariat tentang qunut dalam shalat Witir telah sah sebagaimana dalam hadits Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata,
عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُوْلُهُنَّ فِي الْوِتْرِ اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافَنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
“Rasulullah mengajarkan beberapa kalimat kepadaku untuk saya ucapkan dalam shalat Witir, (yakni) ‘Ya Allah, berilah hidayah kepadaku pada orang-orang yang Engkau beri hidayah, berilah afiyah kepadaku pada orang yang Engkau beri afiyah, naungilah aku pada orang-orang yang Engkau naungi, berkahilah aku pada apa yang Engkau beri, dan jagalah aku dari kejelekan putusan-Mu. Sesungguhnya Engkau memutuskan dan tidak diputuskan terhadap-Mu, dan sesungguhnya tidaklah hina, orang-orang yang Engkau naungi. Maha Berkah Engkau, wahai Rabb kami, dan Maha Tinggi’ ”( Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny, dalam banyak buku beliau, dan Syaikh Muqbil dalam, Al-Jâmi’Ash-Shahîh 2/161)
Juga atsar sahabat yaitu kebiasaan yang dilakukan di zaman Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika tarawih adalah qunut ketika witir setelah memasuki pertengahan Ramadhan. Abdurrahman bin Abdul Qori menceritakan kebiasaan shalat jamaah tarawih di zaman Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Mereka qunut dengan membaca doa laknat untuk setiap orang kafir setelah memasuki paruh Ramadhan. Doa yang mereka baca,
اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَلَا يُؤْمِنُونَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَأَلْقِ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلَهَ الْحَقِّ
“Ya Alllah, binasakanlah orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mereka mendustakan para rasul-Mu, dan tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai-beraikan persatuan mereka dan timpakanlah rasa takut di hati mereka, serta timpakanlah siksaan dan azab-Mu pada mereka, wahai sesembahan yang haq”
Setelah membaca doa di atas, kemudian mereka bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk kebaikan kaum muslimin semampunya, kemudian memohon ampunan untuk kaum mukminin. Selanjutnya, mereka membaca,
اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ عَذَابَكَ الْجِدَّ، إِنَّ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ
“Ya Allah, kami menyembah hanya kepada-Mu, hanya kepada-Mu kami shalat dan sujud, hanya untuk-Mu kami berusaha dan beramal, dan kami memohon rahmat-Mu, wahai Rabb kami. Kami pun takut kepada azab-Mu yang pedih. Sesungguhnya azab-Mu ditimpakan kepada orang yang Engkau musuhi.”
Selesai membaca doa di atas, mereka bertakbir dan turun sujud.(HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1100; dikatakan pen-tahqiq-nya, "Sanadnya shahih.”)
Mari kita berdo’a kepada Allah ﷻ sekaligus menghidupkan kebiasaan para salafush shalih pada masa Umar bin Khaththab, dan semoga dengan do’a ini dapat menyatukan hati – hati kaum muslimin dan Allah ﷻ memenangkan dan memuliakan kembali kaum muslimin di masa kini, terutama di negeri – negeri yang kaum muslimin menghadapi konflik melawan kaum kuffar, musyrikin dan orang – orang fasiq (Allahummanshur ikhwaninalladziina fii kulli makaan wa fii kulli zamaan). Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin.
Allahu ‘alam
(Disusun dari berbagai sumber)
Komentar
Posting Komentar