Hiasi Ramadhan Dengan Interaksi Bersama Al-Qur'an

بسم الله الر حمن الرحيم

الحمد لله الذي هدانا لهذ ا وما كنا لنهتدي لولا ان هدانا الله
اشهد ان لا اله الا الله ولا ولده واشهد ان محمدا عبده ورسوله الذي لا نبي ولا رسول بعدا
اما بعد
فان اصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد  وشر الامور محدثاتها فان كل محدثة  بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
قال الله تعالى في كتابه الكريم وهو اصدق القاعلين :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وقال أيضا : ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم

Ikhwanu fiddiin a’azzaniyallahu wa iyyakum ajma’iin
Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan ampunan, bulan dimana dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu neraka serta dibelenggunya para syaithan. Rasulullah ﷺ bersabda :
قد جاءكم رشهر رمضان شهر مبارك افترض الله عليكم صيامه يفته فيه ابواب الجنة ويغلق فيه ابواب الجحيم وتغل فيه الشياطين فيه ليلة خير من الف شهر من حرم خيرها فقد حرم ( رواه احمد، النسائي)ـ
“Telah datang pada kalian bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah, diwajibkan oleh Allah atas kalian berpuasa, pada bulan tersebut dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan syetan-syetan dibelenggu, padanya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa tidak mendapatkan kebaikan padanya maka sungguh dia tidak mendapatkannya” (HR. Ahmad, Nasa’i – dishahihkan oleh syaikh al-albani pada riwayat An-Nasa’i)
Masih banyak lagi dalil-dalil shahih yang menyatakan keutamaan bulan ramadhan serta amalan-amalan di bulan ramadhan. Diantaranya adalah keutamaan shalat malam di bulan ramadhan (shalat tarawih), memperbanyak shadaqah di bulan ramadhan, bulan ramadhan dipilih oleh Allah sebagai bulan dimana diturunkannya kitab suci Al-Qur’an dan lain sebagainya.
من قام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه النسائي)ـ
“Barang siapa shalat malam pada bulan ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. An-Nasa’i – dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ
“Bulan ramadhan yang diturunkan didalamnya Al-Qur’an, (sebagai) petunjuk bagi sekalian manusia dan (sebagai) penjelas dari petunjuk (kebenaran tersebut) dan (sebagai) pembeda (antara haq dan bathil)” (Al-Baqarah : 185)
Maka sungguh telah jelas banyaknya keutamaan pada bulan ramadhan ini, bahkan Rasulullah ﷺ pun meng-aamiin-kan do’a malaikat jibril pada hadits riwayat Abu Hurairah ketika malaikat jibril berkata Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan, betapa meruginya apabila ampunan tidak didapat bahkan Allah pun melaknat, wal iyyadzu billah.
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له  يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.” (Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2:114, 2:406, 2:407, dan 3:295; juga oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Madzhab, 4:1682. Dinilai hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 8:142; juga oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Qaulul Badi‘, no. 212; juga oleh Al-Albani di Shahih At-Targhib, no. 1679.)
Dalam mengisi keutamaan di bulan ramadhan marilah kita melaksanakan amalan-amalan shalih yang tentunya dicontohkan oleh rasulullah untuk memperbanyak pahala, salah satunya adalah dengan memuliakan Al-Qur’an, baik dalam hal tilawah maupun tadabbur. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ yang diredaksikan dalam hadits riwayat imam Bukhari
صحيح البخاري 4614: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِي الْعَام الَّذِي قُبِضَ فِيهِ
Shahih Bukhari 4614: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yazid Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari Abu Hushain dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata: "Biasa Jibril mengecek bacaan Al Qur`an Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sekali pada setiap tahunnya. Namun pada tahun wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Jibril melakukannya dua kali. Dan beliau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf sepuluh hari pada setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun wafatnya, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari."
Pada riwayat tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah selalu mengecek bacaan Al-Qur’an sekali setahun pada bulan ramadhan, maka apabila Rasulullah ﷺ yang langsung diajari oleh Allah melalui malaikat jibril saja masih sering diulang dan dicek, apatah lagi kita sebagai thalib al-ilm sangatlah harus memperbaiki kembali bacaan dan interaksi kita dengan Al-Qur’an dengan bimbingan dari guru yang ‘alim.
Maka dalam mengimplementasikan hadits di atas, para salafuna shalih pun mengikuti Rasulullah ﷺ dengan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an pada bulan ramadhan. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid rahimahullah –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia tahun 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata,
كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ
“Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan.
Disebutkan dalam kitab yang sama, di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Dan patut diketahui bahwa ternyata waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51)
Contoh kedua dari seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah rahimahullah yang meninggal dunia tahun 60 atau 61 Hijriyah. Beliau adalah salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini disanjung oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,
كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Bahkan ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya setiap malam.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276)
Contoh ketiga adalah dari Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah yang kita kenal dengan Imam Syafi’I, salah satu ulama madzhab terkemuka. Disebutkan oleh muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman,
كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً
“Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari sebanyak dua kali. Subhanallah …
Contoh terakhir adalah dari Ibnu ‘Asakir yang merupakan ulama pakar hadits dari negeri Syam, yang terkenal dengan karyanya Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya,
وَكَانَ مُوَاظِبًا عَلَى صَلاَةِ الجَمَاعَةِ وَتِلاَوَةِ القُرْآنِ، يَخْتِمُ كُلَّ جُمُعَةٍ، وَيَخْتِمُ فِي رَمَضَانَ كُلَّ يَوْمٍ، وَيَعْتَكِفُ فِي المنَارَةِ الشَّرْقِيَّةِ، وَكَانَ كَثِيْرَ النَّوَافِلِ وَالاَذْكَارِ
“Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562)
Subhanallah, begitulah kisah-kisah yang dapat menyemangati kita untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan suci ramadhan. Jika dalam bulan-bulan biasa saja membaca setiap huruf dalam Al-Qur’an itu diganjal 10 kebaikan yang semisal, apatah lagi jika di bulan suci ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’an dan bulan dimana dilipat gandakannya pahala.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf." (HR. Tirmidzi – Shahih menurut syaikh Al-Albani)
Semoga bacaan kita dapat menjadi syafaat di yaumil akhir kelak dan menjadi syafaat dan menjadi keutamaan tingkatan kita semua di dalam jannah-Nya, aamiin.
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa'at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti” (HR. Muslim 1337 / 804 dalam syarah shahih muslim Imam Nawawi)
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
"Akan dikatakan kepada ahli Qur'an: bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil sewaktu di dunia karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang kau baca." (HR. Ahmad 6508)
الله اعلم...
بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
أَقُولُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Akhukum fillah,
Abu Zanki Gina Kusuma ibn Syaifullah ibn Kartobi
Pamulang, 8 Juni 2017 M / 13 Ramadhan 1438 H

Sumber :


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii Ilmi Nahwi

Catatan Pribadi Kuliah Ramadhan

Catatan Pribadi Pelajaran Muyassar Fii 'Ilmin Nahwi (3)